CADAR ITU HANYA BUAT MEREKA YANG CANTIK

Seorang ulama besar bernama Ibnu Juwaiz Mandad berkata: “Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya”

Dengan kata lain, seorang perempuan berhak tidak menggunakan cadar kalau ia tua atau jelek. Cadar cuma diwajibkan bagi perempuan cantik.

Masuk di akal?

Buat saya sih tidak. Tapi terus terang, inilah salah satu persoalan utama umat Islam saat ini…

Umat islam terlalu sering merujuk pada apa yang disebut sebagai hukum Islam, yang diformulasikan lebih dari belasan abad yang lalu, di daerah yang kondisinya jauh berbeda dari Indonesia.

Dan ketika itu mau diterapkan di abad 21 ini, jadinya terkesan mengada-ada. Kontroversi penggunaan cadar di Indonesia, misalnya, adalah salah satu contoh terbaik.

Pertama-tama harus dicatat, soal kewajiban penggunaan cadar itu tidak ada dalam Al Quran dan hadits Nabi.

Memang ada yang bilang bahwa kewajiban itu merujuk pada surat Al Azhab ayat 59 dalam Al Quran yang menyatakan: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.

Tapi itu kan tidak menyebut-nyebut soal cadar? Terhadap ayat ini pun ada banyak perbedaan pendapat.

Saya termasuk yang percaya pada interpretasi KH Quraish Shihab yang menganggap ayat itu sekadar meminta para perempuan mengenakan pakaian yang terhormat, sopan, pantas sesuai dengan kondisi masyarakat masing-masing.

Interpretasi lain, adalah ayat itu mewajibkan perempuan mengenakan jilbab yang menutup seluruh tubuh, dengan menyisakan wajah telapak tangan

Tapi lagi-lagi itu bukan soal penutup wajah.

Jadi Allah tidak pernah memerintahkan penggunaan cadar. Begitu juga Nabi Muhammad tidak pernah memerintahkannya.

Lantas dari mana datangnya urusan kewajiban penggunaan cadar ini?

Yang menyatakan cadar itu wajib adalah para ulama yang hidup sekitar 14 abad yang lalu di Arab.

Contohnya Ibnu Juwaiz Mandad tadi. Dia memang ulama terkenal. Tapi biar bagaimanapun dia adalah manusia biasa. Pendapatnya mencerminkan budaya di mana dia hidup. Soal kewajiban bercadar bagi hanya wanita cantik itu saja sudah menunjukkan, bahwa hampir tidak mungkin perintah itu datang dari Tuhan.

Jadi rasanya sih itu cuma pendapat Ibnu Juwaiz atau orang-orang segenerasinya saja .

Nah masalahnya, banyak orang-orang Islam di abad 21 ini yang merasa gaya hidup umat islam harus kembali meniru gaya hidup abad ke 7.

Mereka rupanya merasa bahwa orang-orang Islam, termasuk pemuka dan ulama, yang hidup di abad ke 7 lebih tinggi kualitasnya daripada kita semua sekarang.

Karena itulah terjadi penjiplakan segala hal, termasuk soal bercadar tadi. Tapi kalau memang begitu, apakah dengan demikian bercadar adalah sesuatu yang layak dilarang?

Kalau kita gunakan demokrasi sebagai referensi, jawabannya kurang lebih begini. Dalam demokrasi, cara berpakaian adalah hak asasi manusia yang harus dilindungi.

Dengan kata lain, pada prinsipnya, negara seharusnya tidak campur tangan dalam cara berpakaian individu. Jadi di titik ini, bercadar seharusnya diizinkan dalam masyarakat demokratis.

Tapi dalam demokrasi juga dikenal batasan atas kebebasan. Dalam konteks tertentu cara berpakaian tentu juga bisa diatur.

Bebas berpakaian tentu saja tidak pernah berarti bebas sebebas-bebasnya. Di sini ada soal kelayakan, kesantunan, kesusilaan.

Sebagai contoh, biar bagaimanapun, seorang perempuan berbikini bisa saja diamankan kalau dia berjalan-jalan di pusat kota. Alasannya: mengganggu ketertiban.

Begitu juga di kampus saya, walau saya menghormati cara berpakaian mahasiswi saya, saya sangat mungkin menegur mahasiswi saya kalau dia hadir dengan hotpants di kelas.

Yang ingin saya katakan, kebebasan berpakaian tetap memiliki batas. Begitu juga dengan cadar.

Persoalan utama dengan cadar adalah, bahwa cadar akan menutup wajah seorang perempuan sehingga mengaburkan identitasnya.

Kalau ada seorang mahasiswi mengenakan cadar di kelas saya, saya akan keberatan karena saya akan sulit mengidentifikasi siapa dia.

Sebagai contoh, bagaimana saya bisa tahu mahasiswi bercadar saya minggu ini adalah orang yang sama dengan yang hadir pekan lalu.

Atau, bagaimana pula dengan mahasiswi yang hadir di saat ujian? Apakah dia orang yang sama atau tidak?

Apalagi kalau ini menyangkut hal-hal yang terkait dengan keamanan.

Pihak keamanan sebuah bangunan bisa saja keberatan dengan kehadiran perempuan bercadar, karena kesulitan pengidentifikasian.

Atau contoh sederhana lain: bila Anda masuk ke booth ATM, Anda memang harus melepaskan semua penutup kepala Anda. Termasuk cadar, tentu saja.

Jadi soal cadar ini, urusannya memang dibuat sederhana saja. Kalau ada perempuan bercadar, ya silahkan saja, tapi jangan bilang itu kewajiban dalam Islam ya.

Dan kalau mau bercedar, ingat ya, ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat Anda harus menanggalkan cadar. Dan itu dilakukan bukan karena soal agama. Ini soal kelayakan, dan soal akal sehat.

Gunakan akal sehat, agar agama bermanfaat.

Komentar