SEBAGAIMANA AHOK, PSI JUGA AKAN DIHABISI I LOGIKA ADE ARMANDO

Ini pelajaran penting dari DPRD DKI. Jangan coba-coba melawan korupsi. Kalau masih nekad, Anda akan dihabisi.

Pekan lalu William Aditya Sarana dari PSI sudah dinyatakan bersalah oleh Badan Kehormatan DPRD DKI. Sanksinya ringan. Hanya teguran lisan. Tapi tetap saja dia dinyatakan bersalah.

Apa sih salah dia?

Sederhana saja. Sebagai wakil rakyat, dia terlalu jujur mengungkap kejanggalan anggaran lem aibon sebesar Rp 82 miliar.

Karena kejujurannya, dia dianggap tidak memperhatikan tata krama, etika, moral dan sopan santun.

Apa yang dilakukan Badan kehormatan DPRD DKI sungguh memalukan. Tapi barangkali, kita memang tidak perlu terkejut.

Parlemen Indonesia memang busuk dan mereka terganggu dengan apa yang dilakukan anak muda yang berani menggoyang status quo.

William dan PSI adalah gangguan bagi sistem yang tingkat korupsinya sudah berurat berakar.

Selama ini, dalam kajian ilmu sosial, ada satu pertanyaan besar: bagaimana memperbaiki sebuah sistem yang busuk?

Bagaimana memperbaiki sistem yang sedemikian busuk sehingga elemen-elemen di dalamnya saling bahu membahu mempertahankan sistem busuk tersebut?

Tidak semua orang di dalam parlemen adalah orang jahat. Sebagian adalah orang baik yang berharap sistem bisa diperbaiki.

Namun mereka terperangkap dalam jebakan batman: sistem ini sudah membawa keuntungan banyak bagi dirinya dan teman-temannya, dan kalau orang-orang baik ini ingin mengubahnya, mereka harus berhadapan dengan teman-temannya sendiri.

Dalam banyak kasus, yang mereka harus hadapi bukanlah teman-temannya, melainkan juga atasan-atasannya di partai.

Sistem ini busuk sangat lama, karena banyak pihak sudah diuntungkan. Orang-orang baik akhirnya mengalah, memilih diam. Mereka tahu sistem busuk, tapi mereka tidak berani berbuat apa-apa.

Mereka mungkin tidak ikut korup, berusaha hidup bersih, tapi membiarkan korupsi terus merajalela.

Pilihan perubahan lain adalah dengan merombak sistem sama sekali. Jadi bayangkan, seluruh anggota parlemen lama diganti oleh orang-orang baru, atau partai-partai yang baru sama sekali.

Tapi impian semacam itu tidak masuk di akal. Itu memerlukan revolusi. Dan kita tidak suka dengan jalan revolusi.

Karena itu pilihan yang realistis adalah masuknya orang-orang baik baru, yang tidak punya hubungan dengan kekuatan lama. Orang-orang baik yang berintegritas dan dengan berani memperbaiki sistem. Orang-orang baik yang nothing to lose.

Inilah yang sekarang dilakukan William dan kawan-kawan dari PSI.

Mulut mereka ember. Mereka dengan berani membongkar sesuatu yang selama ini rupanya tabu dibicarakan.

Kali ini yang bikin anggaran tidak masuk di akal adalah Pemda. Tapi di kali yang lain, yang bikin anggaran mengada-ada, bisa saja DPRD sendiri.

Tiga tahun yang lalu, Gubernur Ahok pernah menggegerkan masyarakat ketika dia dengan tegas menolak anggaran DPRD dalam hal pengadaan Uninterruptable Power Supply (UPS) untuk sekolah-sekolah yang harganya sampai miliaran rupiah per unit.

Saat penolakan itulah, tercetus ungkapan Ahok yang fenomenal: Pemahaman nenek Lu!

Jadi, yang suka bermain-main dengan anggaran ini bukan Cuma Pemda. Tapi juga DPRD. Dan ini bukan saja terjadi sekarang, tapi dari dulu.

Jadi Pemda dan DPRD adalah dua pihak yang kompak dalam menghabiskan uang rakyat.

Ketika PSI dengan berani menyampaikan ini pada publik, yang kebakaran jenggota bukan cuma Pemda, tapi juga DPRD.

Apa yang dilakukan PSI menjadi tidak pantas bukan karena soal etika, tapi karena PSI akan membongkar konspirasi yang sudah membawa kesejahteraan bersama baik bagi Pemda maupun DPRD

Dengan demikian, sanksi kepada William itu adalah sebuah peringatan agar PSI jangan main-main. Mereka yang memberi sanksi tentu berharap PSI akan menjadi lebih bijak di masa-masa mendatang.

Bijak berarti diam, tidak peduli, turut menikmati. Kalau PSI ngotot, mereka mungkin akan diAhokkan.

Kita tahu, Ahok dulu diturunkan dari jabatannya sebagai gubernur, karena dia anti korupsi. Soal penistaan agama, hanyalah jalan masuk. Segala cara dulu dilakukan untuk menghabisi Ahok.

Kini, bila PSI juga kembali menunjukkan semangat serupa Ahok, sangat mungkin mereka pun akan dijadikan sasaran pembantaian serupa. Karena itu, kita hanya bisa berharap agar kawan-kawan PSI tetap bertahan.

Tentu kita berharap apa yang dilakukan PSI diikuti pula oleh para anggota parlemen baru yang masih berintegritas. Termasuk, kalau bisa, Mulan Djameela.

Kita harus mendukung mereka, karena korupsi adalah extraordinary crime yang membuat rakyat menderita.

Tanpa ada orang seperti Ahok atau PSI atau orang-orang baik yang berani bertindak, korupsi akan terus bertahan dan terus menggurita.

Kita harus terlibat agar Indonesia selamat

Komentar