Ade Armando: MALAIKAT MELAKNAT ISTRI YANG MENOLAK BERHUBUNGAN?

Boleh tidak seorang istri menolak ketika suaminya mengajaknya berhubungan seks?

Pertanyaan ini kembali mengemuka gara-gara adanya adanya pasal dalam RUU KUHP baru yang memuat pasal pelarangan pemaksaan hubungan seks dalam pernikahan. Istilah kerennya: pelarangan marital rape.

Sebagaimana banyak diberitakan, banyak yang tidak setuju dengan pasal ini. Terutama  kelompok-kelompok Islam. Ironisnya, protes atas pelarangan tersebut datang juga dari ibu-ibu.

Penyebab penolakan adalah mereka sangat percaya bahwa Islam melarang istri untuk menolak berhubungan seks dengan suami.

Yang dijadikan rujukan adalah hadits yang berbunyi:

“Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu istri tidak mendatanginya, hingga suaminya bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi tiba.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Gara-gara hadits itu, bahkan berkembang pandangan bahwa istri yang durhaka pada suami semacam itu tidak akan diterima sholatnya dan tidak akan masuk surga.

Buat saya sih ajaran semacam ini tidak masuk akal.

Kesannya, begitu seorang perempuan menjadi istri, dia harus bertindak  sebagai semacam budak yang harus mengikuti saja semua perintah suami.

Kesannya istri harus jadi istri siaga: siaga 24 jam menjadi pelayan seks?

Terus, ngapain juga malaikat mengurusi ranjang orang-orang yang diawasinya? Malaikat yang mana sih yang salah satu kerjaannya melaknat istri?

Kok, rendah sekali ya posisi perempuan.

Begini ya, . . . pria dan perempuan diciptakan Allah untuk menjadi mahluk-mahluk setara. Kalau mereka menikah, hubungan pria dan perempuan juga setara.

Saya rasa, cerita tentang Nabi Muhammad yang memiliki istri pertama, seorang pedagang besar, Khadijah adalah kisah inspiratif penting bagi umat islam tentang hubungan pria dan perempuan.

Nabi Muhammad adalah orang suruhan Khadijah. Khadijah adalah boss Nabi Muhammad. Karena itu gak ada ceritanya bahwa perempuan lebih rendah dari pria.

Kembali ke soal marital rape.

Karena hubungan setara, ya setiap perilaku seks antara keduanya harus mencerminkan kesetaraan. Tidak ada yang bisa memaksa yang lain untuk melakukan sesuatu tanpa kesepakatan.

Dan siapapun yang cukup mengerti soal seks akan paham bahwa perilaku seks pria dan perempuan itu beda. Hubungan seks adalah hal lazim dinikmati bersama oleh suami dan istri.

Tapi, berbeda dengan pria, bagi perempuan hubungan seks itu bisa menyakitkan. Bahkan sangat menyakitkan. Secara fisik dan secara psikis.

Saya sempat menyaksikan video yang menampilkan perempuan muslimah cantik yang bilang: “Kok aneh, ada istri diperkosa? Mana ada istri diperkosa? Yang ada malah istri keenakan? Kalau menjerit-jerit, juga karena keenakan”.

Wanita ini beruntung karena dia tidak pernah mengalami pemaksaan dalam hubungan.

Tapi dalam banyak kasus, apa yang diherankan permpuan itu sungguh terjadi. Ada banyak perempuan yang tersakiti ketika berhubungan dengan suaminya.

Alasan istri tidak mau berhubungan bisa macam-macam. Bisa jadi si perempuan sedang sakit, stress, faktor hormon, tidak nyaman secara psikologis, nyeri di bagian intim, banyak pikiran, bosan, merasa frekuensi hubungan terlalu sering, si suami egois, dan banyak alasan lainnya termasuk kalau istri takut  suami menuntut dia melakukan perilaku seks yang buat dirinya menjijikkan…

Poin saya, ada banyak alasan bagi perempuan untuk menolak hubungan seks. Dan kalau itu terjadi, yang seharusnya dilakukan bukanlah memaksa istri tetap melakukan hubungan seks. Yang harus dilakukan adalah mencari penyebab dan mengatasinya.

Jadi kalau mau, para malaikat sebaiknya jangan melaknat si istri, tetapi memberi inspirasi bagi si suami bagaimana cara membantu istri mengatasi rasa enggannya.

Istri yang menolak berhubungan seks pasti punya alasan kuat. Perempuan itu akan menikmati hubungan seks kalau dilakukan dengan benar. Jadi pasti ada alasan kuat bagi si perempuan untuk menolaknya.

Seorang suami yang memang menyayangi istri pasti tidak ingin menyakiti hati istrinya, dan karena itu tidak akan melakukan pemaksaan. Istri adalah belahan jiwa suami.

Mereka yang marah-marah ketika ditolak berhubungan adalah orang-orang yang otaknya dipenuhi seks. Mereka yang memperkosa istri adalah mereka yang tidak mampu mengendalikan syahwat.

Jadi hadits yang dijadikan rujukan itu sudah selayaknya ditinjau kembali. Mungkin ada alasan Nabi Muhammad mengatakannya. Ada konteks yang tidak kita pahami.

Atau bisa jadi juga nabi Muhammad sebenarnya tidak mengatakan persis begitu. Hadits itu kan berdasarkan ingatan dan dikabarkan dari mulut ke mulut. Jadi sangat mungkin juga sebenarnya terjadi distorsi.

Kita harus meninjaunya kembali, karena pengharaman istri menolak ajakan suami sama sekali tidak masuk akal.

Kelompok-kelompok Islam seharusnya justru berada di garis terdepan untuk mendukung masuknya pasal marital rape dalam KUHP. Apalagi para ibu-ibu muslimah itu.

Pasal marital rape itu dibuat untuk melindungi perempuan yang selama ini jadi korban. Setiap suami harus tahu bahwa dia tidak bisa memaksa istrinya berhubungan seks. Setiap suami harus tahu

dia TIDAK BOLEH MEMPERKOSA ISTRINYA.

Gunakan akal sehat agar agama bermanfaat.

Komentar