Resensi Buku : Pembusukan Karena Politik Identitas

Judul Buku:
Identity : The Demand of Identity and the Politics of Resentment
Penulis : Francis Fukuyama
Penerbit: Farrar, Straus and Giroux
Tahun: 2018

Buku ini merupakan buku yang rekatif Francis Fukuyama, pemikiran terkemuka soal
masa depan, yang sebenarnya memiliki keterkaitan dengan terpilihnya Donald J. Trump sebagai Presiden Amerika Serikat pada November 2016. Menurutnya teroilih Donald trump adalah salah satu dari dua hal yang mengejutkan selain keluarnya Inggris dari Uni
Eropa, atau Brexit pada Juni 2016. Sebelum Trump terpilih, Fukuyama sudah menyatakan bahwa Amerika sedang membusuk.  Negara yang dikuasai kelompok kepentingan yang sangat kuat dan terkunci dalam sistem yang rigid yang menyebabkan sulit untuk melakukan reformasi.

Trump sendiri, menurut Fukuyama adalah produk sekaligus penyumbang kebusukan tersebut. Gejala Trump, disebut dengan istilah vetocracy, atau kemampuan kelompok kepentingan untuk memblok aksi kolektif. Hal senada pernah terjadi pada masa Franklin De Roosevelt pada 1932.

Menurut Fukuyama ada dua masalah terkait dengan Trump; pertama, kebijakan, kedua, karakter individu.

Kebijakan nasionalisme ekonomi Trump menyebabkan dunia lebih buruk bagi para pendukungnya. Sementara pilihannya atas otoritarianisme orang kuat ketimbang demokrasi menyebabkan tatanan dunia internasional tidak stabil. Menurut Fukuyama, Trump merupakan representasi dari kecenderungan politik internasional yang menuju arah nasionalisme populis (populist nationalism). Para pemimpin populis menggunakan pemilu demokratis untuk memperkuat kekuasaan. Mereka mengklaim memiliki hubungan langsung dengan “rakyat”. Pemimpin populis ini menurut Fukuyama tidak senang dengan kelembagaan dan memiliki kecenderungan untuk meremehkan “checks and balances.” Dalam demokrasi liberal, hal ini dilakukan untuk membatasi kekuatan personal dari seorang pemimpin.

Buku ini menandai adanya perubahan dunia yang dratis. Negara-negara yang tadinya gemilang dalam kehidupan demokrasi, kini menuju pada arah penurunan. Dari Amerika Serikat, Hungaria, China, Russia dan lebih banyak lagi menunjukkan gejala the politics of resentment (politik kemarahan).

Fukuyama menggunakan konsep identitas untuk menjelaskan hal-hal yang
terkait dengan politik kemarahan tersebut. Menurutnya, untuk membaca politik
kontemporer konsep identitas atau identitas politik merupakan hal yang tidak bisa
dielakkan. Ia menjelaskan antara konsep “identitas” per se dan konsep
“politik identitas.”

Konsep pertama dikembangkan oleh psikolog Erik Erikson pada dekade 1950 an dan konsep identitas politik muncul pada decade 1980-1990-an sebagai bagian dari politik kebudayaan. Namun konsep identitas yang digunakan oleh Fukuyama dalam buku ini memiliki kekhususan makna.

Menurutnya, identitas pertama kali muncul dalam diri seseorang (one’s true inner self), namun dunia luar seperti hukum dan norma sosial tidak mengakuinya. Melalui sejarah, manusia menemukan diri mereka asing berhadapan dengan masyarakatnya. Menariknya,  dunia modern telah memandang bahwa identitas itu hal yang berharga
sementara masyarakat luar itu telah salah dan unfair dalam melihat identitas
tersebut.

Namun demikian, Fukuyama memandang bahwa the inner self (identitas)
itu benar merupakan basis martabat kemanusiaan, namun martabat (dignity) itu
bermacam-macam dan selalu berubah. Pada zaman kuno, martabat memang hanya
dikaitkan dengan orang-orang tertentu seperti Pahlawan dan lain sebagainya,
namun dalam masyarakat lainnya, martabat adalah milik semua orang.

Fukuyama menjelaskan tiga fenomena yang berbeda dalam konsep identitas.
Pertama, dia menyebutnya sebagai tymos, aspek universal kepribadian manusia
yang menghendaki pengakuan. Kedua, perbedaan antara the inner self (kedirian)
dan the outer self (luaran kedirian) serta kemunculan penilaian moral the inner self
atas masyarakat di luar.

Hal ini hanya terjadi dalam konteks Eropa modern. Ketiga, konsep martabat (dignity) manusia yang terus berubah dimana martabat itu bukan milik sebuah kelas saja namun miliki banyak orang.

Atas tiga hal di atas, Fukuyuma membuat elaborasi tentang dignity yang menurutnya
universalisasi (perluasan) martabat inilah yang mengubah private quest (misi
pribadi) menjadi proyek politik. Hal ini terjadi dalam pemikiran politik Barat pada
generasi pasca Rousseau seperti pada Immanuel Kant dan Hegel. Socrates
mengatakan jika martabat itu dibutuhkan oleh para pejuang yang merelakan diri
mereka mati untuk kepentingan publik.

Dalam tradisi Kristiani, martabat adalah soal pilihan moral, membedakan hal yang baik dan buruk. Kant mendefinisikan pilihan moral sebagai kemampuan untuk mengikuti hukum asbtrak dari nalar itu sendiri, bukan berdasar nalar instrumental yaitu pilihan moral yang berkaitan dengan outcome (hasilnya) seperti ingin bahagia dlsb. Pilihan moral pada manusia itu artinya manusia bukan mesin yang menjadi subyek dari hukum fisik manusia.

Tafsir Fukuyama atas Kant adalah moralitas bukanlah kalkulus utilatarianisme keluaran
yang memaksimalkan kebahagiaan manusia, akan tetapi tindakan memilih itu sendiri
adalah moralitas. Hegel menerima keterkaitan antara pilihan moral dan martabat,
namun manusia itu agen yang bebas yang bukan mesin yang hanya mencari
kebahagiaan dan kepuasan diri mereka.

Uraian teoretis Fukuyama soal identitas, tymos, pilihan moral, martabat manusia,
pada dasarnya adalah untuk menjelaskan kompleksitas politik identitas dan politik
kemarahan (resentment) yang melanda banyak negara.

Di akhir buku ini, Fukuyama bertanya soal apa yang harus dilakukan. Mengutip petuah Charles Taylor, filosof tersohor Canada, kita tidak bisa jauh dari identitas atau identitas politik karena ini adalah ide moral yang sangat kuat yang dijatuhkan untuk kita. Identitas atau politik identitas inilah yang mengingatkan bahwa kita memiliki kedirian (inner self) yang otentik yang tidak diakui dan memberikan isyarat bahwa masyarakat di luar itu bisa salah dan represif. Identitas juga menuntut pengakuan atas martabat kita dan memberikan cara (Bahasa) untuk mengekspresikan kemarahan jika pengakuan atas martabat itu tidak kunjung datang. Inilah sebenarnya yang menurut Fukuyama terjadi semenjak Revolusi Prancis sampai sekarang.

Menurut Fukuyama, demokrasi liberal telah memberikan kebebasan dan kesetaraan hak pada manusia, namun ini kadang hanya terasa jika kita hidup di dalam sistem yang diktator. Lebih lanjut, Fukuyama menggambarkan jika menjadi warga demokrasi liberal bukan berarti tidak ada masalah. Justru, di sinilah letak masalahnya dimana warga demokrasi liberal kini menghadapi penghakiman atas beda kulit, asal usul negara, gender, etnisitas, orientasi seksual dan sebagainya.

Di banyak negara demokrasi liberal, pelayanan publik, meskipun ada jaminan persamaan hak, namun kenyataannya masih melihat unsur warna kulit sebagai penentu. Menurut Fukuyama, kekebasan bisa saja membuat masyarakat liberal modern itu menjadi tidak berbahagia. Dalam tingkat modernitas, mereka merasa nostalgic dengan komunitas kesukuan mereka yang menurut mereka telah hilang atau dihilangkan.

Dalam konteks modern, identitas itu sesuatu yang bisa berubah, namun sebagian
kalangan menganggap jika idenitas itu menjadi bagian tubuh manusia (biologis). Kita harus berpikir bahwa masyarakat modern itu harus memiliki identitas yang bermacam-macam (multiple identities). Kita memiliki identitas yang dibentuk oleh lingkungan kerja kita, gender, interaksi dengan masyarakat yang lebih luas dlsb. Jika politik identitas itu membagi manusia dalam kelompok yang lebih kecil, mengapa kita juga tidak meminta politik identitas menyatukan manusia.

Menurut Fukuyama kita harus menerjemahkan ini ke dalam kebijakan yang kongkrit. Kita harus mulai menolak penyalahgunaan identitas seperti perlakuan kekerasan pada kelompok minoritas.Kita juga harus menjadi kewargaan sebagai basis perluasan dan penyatuan pelbagai identitas. Kita harus sadar bahwa identitas itu merupakan pemberian pada kita karena kita lahir sebagai manusia. Identitas bisa kita gunakan untuk memisahkan namun juga bisa kita gunakan untuk menyatukan kita semua, demikian kata akhir Fukuyama.

Buku Fukuyama ini, meskipun disusun berdasarkan pengalaman dia dengan dunia Barat namun cukup buat kita sebagai orang Indonesia untuk bisa mengambil beberapa konsep dasarnya. Selama ini kita berpandangan bahwa identitas itu biologis dan “given” namun berdasarkan penelusuran filosofis dan historis, identitas adalah terbentuk karena interaksi antara faktor dalam dan faktor luar diri manusia. Jika kita memperluas dan menggunakan perbedaan identitas sebagai alat pemersatu maka itulah yang Indonesia sebenarnya kehendaki.

Syafiq Hisyam

Komentar