Jakarta Under Attack

Heboh banget Jakarta waktu kemarin mati listrik hampir seharian..

Timeline medsos penuh dengan keluhan mulai dari sumpek, panas, nyamuk sampe masalah hidup dan mati, yaitu napas batre handphone tinggal seujung jari. Jakarta seperti sedang diserang mahluk angkasa luar, panik gak kelar-kelar.

Bahkan Gubernur DKI lulusan Amerika, sampai khusus membuat twit untuk menenangkan warga Jakarta. Dia mengingatkan bahayanya jutaan kulkas yang mati dan ketakutan warganya nanti makan makanan basi.

Saya sempat bingung awalnya baca twitnya. Ini Gubernur apa ibu rumah tangga ? Akhirnya saya berprasangka baik, mungkin beliau dulu pernah kerja di reparasi.

Mati listrik se Jawa Bali ini sampai mengundang reaksi Jokowi. Dia langsung datang ke kantor PLN dan marah-marah. “Bapak dan ibu kan pintar pintar. Apalagi urusan listrik kan sudah profesional. Apa tidak di kalkulasi, kok tiba-tiba drop ?”

Kenapa masalah listrik saja Jokowi harus sampai datang ke kantor PLN dan marah kepada mereka ?

Rahasianya ternyata ada pada semakin dekatnya Jokowi mengeluarkan Peraturan Presiden tentang mobil listrik. Ya, mobil listrik.

Perpres ini direncanakan keluar Agustus ini, tapi masih menjadi perdebatan di para Menteri berkaitan dengan banyak hal, termasuk pajak.

Jokowi ingin mengembangkan mobil listrik di Indonesia, bukan hanya sebagai sebuah tanda bahwa negeri ini mengikuti perkembangan jaman, tetapi yang lebih penting adalah investasi.

Menyambut Perpres mobil listrik, Jepang sudah setuju untuk mengucurkan dana 28 triliun rupiah untuk pengembangan. Dana ini akan disalurkan melalui perusahaan-perusahaan otomotif Jepang di Indonesia seperti Toyota.

Itu belum investasi dari Elon Musk, pengembang mobil listri Tesla, yang akan mengucurkan dana lebih dari 57 triliun rupiah untuk membangun pabrik batre lithium. Batre ini sangat diperlukan sebagai jantung dari mobil listrik.

Ini yang membuat Jokowi marah. Mukanya seperti ditampar ketika sudah banyak negara luar yang komitmen mau mengembangkan mobil listrik, eh listrik di Indonesia malah mati seharian.

Bisa hengkang semua investor luar kalau Jakarta sebagai ibukota aja byar pet kayak gini. Dan mimpi Jokowi bisa layu sebelum berkembang.

Semoga masalah ini cepat selesai.

Bayangkan, kalau kelak mobil listrik di Indonesia sudah seperti banyaknya handphone disini.

Keluhannya sudah bukan panas, nyamuk, apalagi beli lilin gak memecahkan masalah. Keluhan sudah meningkat sesuai perkembangan jaman. “Aduh, mobil gua batrenya tinggal satu strip lagi nih. Perjalanan masih jauh. Mana gak bawa power bank mobil lagi..”

Dan akhirnya kadal gurun pun ketawa terbahak-bahak. “Mangkanya… Kita harus naik kuda atau onta. Karena naik mobil listrik itu melanggar sunnah..” Jederrrr…

Markibong.

Komentar