Gerindra Dapat Satu Kursi Menteri?

Jika melihat pergerakan Jokowi bertemu dengan Prabowo kemarin, saya menduga Gerindra akan diberikan kursi dalam kabinet kerja Jokowi..

Wah ? Kenapa ? Berarti Jokowi bagi-bagi kursi dong ? Ini tidak adil !!

Begitu pasti reaksi pertama banyak pendukung Jokowi, seandainya memang benar dia memberikan kursi pada Gerindra. Ada yang terluka, ada yang caci maki dan bahkan ada juga para Golputer yang kemudian nyinyir, “Tuh kan, apa gua bilang, Politik itu hanya persoalan kepentingan. Untung gua gak nyoblos..”

Memang benar dalam politik ada unsur kepentingan. Pertanyaannya, kepentingan siapa dan untuk apa ? Apakah kepentingan praktis ataukah kepentingan kebangsaan ?

Kalau melihat rekam jejak Jokowi, dia lebih mengutamakan kepentingan kebangsaan. Dan pada posisi ini, Gerindra lebih meyakinkan daripada partai lainnya semisal Demokrat atau PAN.

Gerindra di Senayan, menempati posisi ketiga sesudah PDIP dan Golkar dengan perolehan 78 kursi. Dan itu sudah pasti lebih besar dari Demokrat apalagi PAN yang empot-empotan.

Penting bagi Jokowi untuk menjadikan Gerindra partner dalam membangun visi kebangsaan. Pertama, dan yang terutama, dengan mengajak Gerindra membangun bangsa bersama, maka Jokowi seperti membersihkan penyakit kulit dari tubuh Gerindra.

Siapa penyakit kulitnya ? Ya tentu kelompok radikal yang anti demokrasi tapi menunggangi demokrasi demi tujuan jangka panjangnya yaitu negara khilafah.

Bayangkan, dengan bersatunya pendukung Gerindra dan kelompok radikal itu, mereka sudah mencapai angka 44 persen lebih pemilih. Ini alarm untuk nasib negeri ini ke depan.

Lihat saja, baru Jokowi bertemu dengan Prabowo saja, mereka sudah mencaci maki dan memusuhi Prabowo. Jadi terbongkar topengnya bahwa mereka sebenarnya bukan pendukung Prabowo, tapi pembenci Jokowi yang menunggangi Prabowo.

Memisahkan Gerindra yang sebenarnya nasionalis dengan kelompok radikal, adalah agenda penting demi tujuan jangka panjang.

Yang kedua, dengan perolehan suara mayoritas di Parlemen, maka lebih mudah meloloskan sebuah produk hukum untuk menghajar kelompok anti Pancasila ini. Ya, bisa mirip-mirip TAP MPR pembubaran PKI. Produk hukum ini penting sekali, supaya siapapun kelak Presidennya, mereka tidak boleh memainkan politik identitas sebagai bagian kampanyenya.

Kedua hal ini jauh lebih penting demi negara dan anak cucu kita, daripada perdebatan tentang siapa dapat kursi Menteri. Menteri toh cuma pelaksana tugas sedangkan Jokowi tetap menjadi Presidennya..

Jadi, seandainya benar Gerindra mendapat kursi Menteri nantinya, kita harus bisa memahami gambar besarnya.

Lawan kita tetap kelompok radikal yang seperti ular, licik, licin dan sangat berbisa. Bukan lagi sesama anak bangsa. Kelak tidak ada lagi cebong dan kampret, karena akan muncul spesies baru yang menjadi musuh bersama.

Yaitu, kadal gurun peminum kencing onta.

Oke, seruput kopinya.

Komentar